Sunday, March 20, 2005
Aku bukan Dora
Nadya tuh menurutku aneh bin ajaib, di saat semua anak perempuan ingin sekali menjadi Dora, anakku Nadya menolak mentah-mentah julukan Dora yang titujukan padanya.
Berawal dari rambutnya yang lurus selalu aku potong sendiri dan model yg paling gampang kan model batok kelapa, maka tak ayal lagi sejak potongan batok kelapa itu jadi trade mark Nadya, Oom-nya yang di Surabaya men-cap Nadya sebagai Maruko. Kenapa Maruko ? Soalnya Oom-nya lebih suka nonton Maruko di minggu pagi (yang kemudian diiringi dengan Hamtaro, Doraemon dan terakhir baru beranjak dari TV setelah Sinchan selesai beraksi) daripada Dora.
Saat demam Dora melanda negeri ini Nadya sudah cukup mengerti kalau namanya Nadya Fitriyanti Rustam dan Nadya anak ayah karena nama bunda tidak ada dalam namanya (aduh…). Nadya juga sudah yakin kalau dia lebih mirip Maruko daripada Dora, kalau ditanya kenapa, maka Nadya akan menjawab :
“Karena rambut Dora begini (sembari tangannya menarik rambut bagian samping, seolah-olah rambutnya mengembang seperti gambar kartun Dora) kalau rambut Nadya gini (sambil menekan rambut bagian samping, seolah-olah rambutnya lepek)”.
Jangan pernah panggil Nadya Dora, sebab dia akan membalasnya dengan kata-kata :
“Nadya bukan Dora tapi Maruko…!!!!”

Punya KTP lagi
Akhirnya aku punya KTP lagi. Terakhir aku punya KTP jauuuuh sebelum Nadya lahir, jadi bisa dibayangkan, minimal selama 3,5 tahun ini kalau aku disuruh menunjukkan kartu identitas maka yang aku kasih adalah SIM. Sungguh ceroboh, gitu kata suamiku, soalnya KTP itu belum berumur 1 tahun dan sudah raib entah kemana. Ya..paling tidak sekarang aku sudah agak tenang kalau bepergian, soalnya denger-denger sering ada razia KTP ya ?




