Jalan-jalan ke Bandung dan Bogor
Tujuan ke Bandung adalah :
- Melihat rumah yang direnovasi
- Menemui Toni (adikku nomer 3)
Kita berangkat setelah Nadya pulang dari sekolah TK-nya. Agak sedikit ribet dengan agent travel karena kupikir yg namanya travel bisa sewa berdasarkan jam sedangkan menurut travel cuma nge-drop ke Bandung aja. Setelah selesai jam 11 baru berangkat menuju Bandung.
“Lewat tol Cipularang” itu pesen eyang-nya Nadya.
Oh iya, rombongan yang berangkat menuju Bandung aku, Nadya, Nungki, Arief, Mama dan Papa (eyang-nya Nadya dan Arief) plus driver dari rental mobil. Sengaja menyewa mobil soali kita kepingin menikmati jalan dan males dipusingkan dengan masalah macet dan sebagainya.
Karena jam berangkatnya tanggung sekali untuk makan siang, maka aku bekal nasi goreng untuk makan di jalan. Rupanya Mama juga bawa bekal, nasi lengkap dengan ayam goreng dan tahu goreng. Jadi kita makan siang di sepanjang jalan tol Cipularang.
Jam 13.30 sudah sampai di Bank Mandiri Surapati. Sengaja mampir dulu ke Bank sebelum menuju ke rumah Cikutra soali ada masalah dengan pin ATM-ku. Gara-gara itu uang belanjaku jadi macet. Setelah urusan dengan bank selesai baru meluncur ke Cikutra Baru. Sesampainya di sana sempat kaget juga dengan rumah yang baru, meski yang dibangun hanya bagian belakang rumah tapi pengaruhnya ternyata besar sekali terhadap keseluruhan rumah.
Sementara itu penghuni kantor sedang makan siang di luar jadi kita keluar masuk kantor sekaligus rumah itu dengan bebas. Sekitar jam 14.30 barulah penghuni kantor mulai berdatangan. Lama juga makan siangnya. Rupanya pelayanan di rumah makan sebelah Selasih mengecewakan. Pesanan baru datang 1 jam dan ikan bakarnya ternyata digoreng dulu. Meski ikan bakar yang digoreng adalah salah satu ciri khas ikan bakar Cianjur, tapi aku dan mas Tras gak suka dengan ikan seperti itu. Kita suka ikan segar yang langsung dibakar. Katanya, dulu resto itu enak ikan bakarnya, tetapi setelah ada kejadian itu mas Tras gak mau lagi makan disitu.
Setelah itu numpang sholat di mesjid As-Shofa deket rumah (kok mesjid-nya dikunci pak ? kan mestinya mesjid selalu terbuka untuk orang yang ingin sholat) karena rumah merangkap kantor masih berantakan, posisi mushola belum ada karena untuk sementara mushola-nya diapakai untuk menyimpan kardus-kardus komputer. Setelah sholat meluncur ke Antapani tepatnya di jalan Depok. Melihat rumah yang direkomendasikan Toni (adikku) untuk dibeli. Sempet lewat toko Brownies kukus Amanda tapi aku kurang tertarik untuk mampir. Setelah itu nunggu mas Tras membereskan urusannya di kantor dengan Emil trus selanjutnya balik lagi ke Jakarta. Tepat pukul 18.00 meluncur menuju Jakarta. Dengan adanya tol Cipularang dan jalan layang yang melintasi Dago perjalanan dari Jakarta ke rumah di Cikutra hanya memakan waktu 2,5 jam. Begitu juga dengan perjalanan pulang. Meskipun saat pulang masih sempat mampir beli yoghurt Odise di Sukawarna dan sempat keluar tol di Karawang Barat karena solar mobil dan tipis, jam 20.30 kita sudah tiba di Jakarta dengan selamat.
Sementara itu minggu pagi tadi aku, Nadya, Mama, Papa, Nungki, Nunung (bojone Nungki) dan Arief melaju ke Bogor. Ada acara Peringatan 50 tahun Pernikahan Oom-nya Mama (Eyang Sunaryo). Dulu sewaktu Mama masih gadis, Mama pernah tinggal numpang di keluarga Eyang Sunaryo selama 1 tahun *atau 2 tahun ya?*. Meskipun sebetulnya eyang Sunaryo ini sepupu-nya eyang Sujak, tapi yang relatif masih berhubungan ya Mama aja, soalnya hanya Mama yang pernah tinggal di Bogor dan kenal dengan saudara-saudara yang lain yang tidak menetap di Ponorogo. Dulu semasa aku kecil beberapa kali pernah mampir di Bogor. Yang sangat berkesan adalah saat pergi ke Taman Safari untuk pertama kalinya. Saat itu eyang Sunaryo ada rapat di Evergreen Puncak, aku dan Nungki dianter pak sopir untuk keliling Taman Safari. Yang aku inget lagi adalah kamar salah seorang putra eyang Sunaryo yang penuh dengan komik Tintin. Waktu itu aku sedang gila membaca dan melihat setumpuk komik Tintin aku langsung girang banget dan betah sekali ngendon di kamar membaca Tintin.
Acaranya relatif sederhana tapi sangat berkesan. Ada sedikit sambutan dari pak Arief Rahman Hakim *yang mengingatkanku untuk selalu bersyukur dan melapangkan dada lebih lebar sehingga prinsip memaklumi selalu ada dalam tiap langkah untuk jalan menuju ikhlas* ada juga sedikit cerita dari eyang Sunaryo sendiri dan cuplikan foto-foto kenangan.
Inget foto kenangan aku jadi inget foto-foto di bawah ini.

Kedua foto kuno itu adalah foto pernikahan my ancestor. Yang tampak paling kuno *baik dari kostum maupun gaya* adalah foto pernikahan eyang Sujak atau ortunya Mama. Sedangkan di foto satu lagi yang sederhana banget *pelaminannya aja dari kursi rumah* itu adalah foto pernikahan Mama dan Papa 13 Desember 1969. Kalau pernikahan eyang Sujak mungkin tahun 1938 atau 39 *ntar mesti konfirmasi dengan Mama dulu*.







