Pas hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus lampau aku, mas Tras, dan Nadya pergi ke Bandung jadi kemeriahan lomba-lomba khas 17 agustusan yang diadakan di RW tempat aku tinggal seperti lomba balap karung, makan kerupuk, menjadi tinggal kenangan. Sewaktu di Bandung-pun aku gak melihat kemeriahan permainan khas 17 agustus itu karena begitu sampai Bandung maunya tidur
Tetapi alhamdulillah banyak sekali peristiwa yang terjadi di pekan ini yang membuat pekan 17 agustus tidak sesepi yang aku pikir.
Awalnya hari Sabtu tgl 19 Agustus 2005. Sekolahan Nadya mengadakan pawai keliling sekolah. Tahun lalu anak-anak diwajibkan pakai baju adat atau baju daerah tapi tahun ini pakai baju olah raga saja. Untuk wali murid lain mungkin terasa aneh tapi bagiku yang suka kepraktisan aku sangat bersyukur dengan keputusan itu. Meskipun saat aku duduk di bangku TK aku aktif ikutan berbagai macam pawai, karnaval, dan pameran, setelah punya anak seperti ini aku merasa repot, he he he, bilang aja males…

Pagi itu meskipun hari Sabtu aku membekali Nadya dengan Butter cheese cake yang aku buat 1 hari sebelumnya. Ternyata cake-nya masih empuk dan gak sekeras butter cake yang aku tahu dan pernah makan.

Ada berbagai macam lomba yang diadakan di sekolahnya Nadya dan Nadya ikut lomba juga loh. Meskipun gak menang tapi seru banget deh acaranya. Keriaan itu berakhir pukul 10 saat Nadya pulang sekolah. Seharian itu kita di rumah aja, abis mau kemana-mana males, panas rek…he he he.
Hari Minggu ini tetangga kita punya acara dalam rangka menyambut hari kemerdekaan.

Di balik jeruji pagar itu (he he he kesannya…) ada beberapa rumah yang didiami suatu keluarga besar. Mereka menyebut diri mereka “warga kompleks” mungkin untuk menyaingi suatu kompleks yang tak jauh dari “kompleks perumahan” yang ini. Mungkin lho, aku kan outsiders. Acara rame-rame itu dimulai setelah para “warga kompleks” balik dari acara Jalan Sehat yang di adakan RW setempat. Jalannya lumayan jauh, sampai POMAD trus balik lagi ke Warung Buncit dan finish di mesjid, itu katanya, soali aku gak ikutan lomba jalan sehat. Alasannya sih : 1. Emang dasarnya udah gak niat. 2. Bangun kesiangan semua.
Acara lomba dimulai dengan makan kerupuk. Lomba khas 17 Agustus ini meskipun sudah lebih dari 30 tahun aku ikuti tapi tetap asyik untuk dilihat dan disoraki. Ada 2 tipe peserta yang ikut lomba, balita beneran dan balita bo’ongan. Balita yang beneran pesertanya ini :

Sedangkan dari balita boongan pesertanya antara lain :

Karena peserta balita yang beneran masih terlalu kecil untuk bisa makan kerupuk yang digantung, maka untuk mereka ada keringan, krupuknya boleh dipegang :)) Lomba makan kerupuk model baru… Di lomba ini Nadya gak mau ikut. Alasannya : Nadya gak mau makan kerupuk yang ada talinya.
Kemudian untuk anak PG dan TK A ada lomba memindahkan bendera. Lomba ini pernah dilihat Nadya di sekolah hari Sabtu kemarin jadi Nadya pede abis dan mau ikutan lomba ini.

Kemudian setelah itu ada lomba memakai sepatu. Nadya juga mau ikutan lomba ini. Tapi akhirnya dia nangis, soali jadi orang terakhir yang bisa memakai sepatu. Maklum, sepatunya udah pas sekali ukurannya, aku aja sering kesulitan untuk memakaikan sepatu itu.

Kemudian untuk anak-anak yang lebih besar ada acara memasukkan pinsil ke dalam botol dan memukul kantong isi air.

Setelah itu acara diakhiri dengan lunch. Banyak makanan yang disediakan pihak panitia, antara lain siomay dari Depok, es krim baltic dari warga kompleks, ada McD karena hari itu kak La ulang tahun, belum lagi goody bag dari Sofi yang ulang tahun juga yg ke-2.
Kemudian setelah itu pembagian hadiah, Nadya dapat hadiah juga lho, soali Nadya juara 1 lomba memasukkan bendera ke dalam botol. Dapat celengan plastik *terima kasih kepada panitia sekaligus donaturnya* kemudian setiap anak juga membawa pulang melamin cina, hanya untuk mengantisipasi kalau ada yg tidak mendapat juara dalam lomba.
Alhamdulillah hari kemerdekaan masih menyisakan sedikit keriaan di hati anak-anak.