Pekan heboh sureboh
Hari Jumat tgl 25 November mama dan papa datang dari Surabaya. Ada cerita lutju dan seru di balik itu.
Seharusnya mama dan papa berangkat dari Surabaya Juanda naik Awair menuju Cengkareng flight jam 09.00, tetapi apa daya Nungki adikku tercinta salah pesan tiket, dia pesan tiket untuk Jumat tgl 24 November 2005 dan petugas ticket juga tidak memeriksa ulang sehingga akhirnya tiketnya ya hangus karena hari Jumat itu bukan tanggal 24 tapi tanggal 25. Karena persiapan ke Jakarta sangat repot dan kaya’nya mama dan papa tidak mau menyerah, maka ditelponlah seorang sepupuku yang istrinya kerja di PT KAI. Sepupuku yang tidak tahu menahu tentang semuanya hanya meng-iyakan saja saat mama pesen tiket kereta api ke Jakarta untuk hari Jumat itu. Dari Juanda menuju ke stasiun Pasar Turi di jam dan hari kerja jelas memakan waktu lama. Akan tetapi saat itu waktu yang dimiliki mama-papa hanya 30 menit. Yup dalam waktu 30 menit mereka harus tiba di stasiun Pasar Turi atau terpaksa pergi hari Sabtu. Apakah mereka berhasil mencapai Pasar Turi dalam waktu 30 menit…??? Tidak.
Mama-papa sampai di stasiun Pasar Turi tepat jam 08.15 padahal mereka belum beli tiket (karena ternyata sepupuku juga gak bawa uang untuk beli tiket ke Jakarta untuk 2 orang) atau bahkan masuk ke peron stasiun. Tapi anehnya…..kereta api seperti menunggu kehadiran mama-papa karena begitu mama-papa berhasil beli tiket dan masuk ke dalam gerbong kereta api, dengan lambat namum pasti kereta api mulai bergerak, padahal saat itu sudah jam 08.20. Ternyata oh ternyata…sepupuku itu ngarang cerita. Ho oh. Sepupuku yg kenal baik dengan orang yg kerja di PT KAI mendekati seorang petugas dan bercerita serta meminta tolong untuk menunda keberangkatan kereta maksimal 10 menit. Alasannya Om-nya (dalam hal ini adalah papa) sedang dalam perjalanan menuju Pasar Turi dan istri sang Om (yg sebetulnya adalah my mom) adalah adik KADAOP.
Gara-gara sedikit berbohong tentang adik KADAOP itu mama-papa bisa berangkat ke Jakarta hari Jumat. Mereka sampai di Jakarta jam 6 malam (mungkin, karena yang menjemput Nungki).
Di saat yang bersamaan, mas Tras juga sedang dalam perjalanan dari Bangka menuju Jakarta. Pesawat dari Bangka membutuhkan waktu 50 menit untuk sampai Cengkareng. Tapi dari Cengkareng sampai rumah dibutuhkan waktu 4 jam !!!!
Speak-speak tentang oleh-oleh.
Mama dari Surabaya membawa lintingan peda (sejenis pepes), bumbu nasi goreng homemade ala mama, keripik kentang, keripik nangka, keripik singkong, keripik tahu, lorjuk dan….lunpia semarang. Lunpia semarang “terpaksa” dibeli karena kereta api dari surabaya melewati semarang. Lewat semarang tanpa beli lunpia semarang sepertinya kok sayang banget gitu…
Mas Tras dari Bangka selama 2 malam membawa oleh-oleh 1 bungkus pempek lengkap (ada selam, lenjer, adaan) tetapi bbrp butir pempek adaan sudah lenyap, karena dalam perjalanan Cengkareng-rumah mas Tras lapar berat, jadi oleh-olehnya dibuat sebagai camilan :)) Kemudian untuk Nadya mas Tras membawa sebuah kejutan. Es krim banana split. Soalnya setiap kali ditanya mau oleh-oleh apa Nadya selalu menjawa es krim, maka ayahnya memenuhi janjinya membelikan es krim. Rupanya mas Tras naik taksi kemudian turun di papa ron’s pizza dan beli es krim disitu kemudian dari situ ke rumah naik ojek :))

lunpia semarang dari semarang dan pempek dari bangka
Hari Sabtu siang kami meluncur ke bandung. Yang aku maksud dengan kami adalah : aku, mas Tras, Nadya, mama-papa, Nungki, Nunung, Arief. Tujuan : Cikutra Baru.
Kami berangkat jam 10.30 setelah Nadya pulang sekolah. Sebelum meluncur ke Bandung mampir dulu ke rumah bude Yono di Pasarminggu, tapi rupanya bude lagi ada acara kondangan entah dimana jadi tepat jam 11 kami meluncur dari pasarminggu menuju bandung. Hari itu hujan mengguyur Jakarta, rupanya sepanjang perjalanan menuju Bandung hujan tetap turun. Hujan turun merata. Rute perjalanan tetap seperti sebelumnya, lewat tol Cipularang.
Jam 14.15 kami dah tiba di Bandung. Meskipun tadi di jalan tol KM 34 aku udah beli tahu sumedang (nungki berhenti di KM 50) tetep aja belum dihitung makan siang, jadi kami berhenti dulu di You dan makan sore
makan di You
Di toko You ketemu sama mbak Maya anak ibu kost-ku, rupanya tante Bahar sedang dirawat di RS Borromeus, jadi setelah selesai makan siang aku, mas Tras dan Nadya mampir sebentar ke Borromeus untuk menjenguk tante Bahar (atau ibu kost-ku semasa aku kuliah di bandung) baru setelah itu aku meluncur ke Cikutra.
Sesampainya di Cikutra langsung leyeh-leyeh semuanya, tetapi berhubung kasur di Cikutra cuma ada 3 maka atas inisiatif papa sore itu papa dan Otik langsung beli kasur, tidak tanggung-tanggung, 4 buah kasur busa dibeli. Malam itu delivery pizza hut aja.
Minggu pagi, kalau di bandung gak makan bubur itu rugi banget, sarapan bubur ayam mang Oyo. Bubur ayam yg dulu aku kenal jualan di jl. H. Wasid sekarang dah pindah ke Dago di sebelah Edward Forrer. Dulu aku sempat kenal istilah “kuping” (kerupuk dan emping), sengar (sendok dan garpu), ganja (kalo gak lada ya seledri, pokoke salah satu deh), jaket (kulit ayam yg digoreng kering), dan banyak istilah lucu yg lain. Seiring dengan waktu perubahan juga terjadi di bubur ayam magn Oyo itu. Dulu 1 porsi bubur ayam yg dibungkus sama dengan 1 kemasan sabun cuci colek ukuran 1/2 kg (misalnya wings ekonomi) tapi sejak bbrp tahun ke belakang sudah bukan kemasan sabun lagi yg digunakan sebagai ukuran tapi mangkok plastik. Kesannya memang lebih bersih dan gak bau sabun tapi efeknya dong…porsi buburnya berkurang :)) Porsi suwiran ayam dan irisan cakue tetap banyaknya tapi ati ampela yg jaman aku dulu masih sempat 600 rupiah (atau 1000 ya..??) dan masing-masing 1 (jadi hati ayam benar-benar 1, begitu juga dengan ampela-nya) sekarang jangan harap bisa begitu. Untuk ati ampela atau apel itu paling masing-masing cuma dapat 1/2 bagian aja. Ukuran kerupuk masih tetap sama. Kalau beruntung seperti pagi itu, masih bisa dapat kacang. Kemudian ada menu baru dalam pake komplit, telur ayam rebus.

Pagi itu tempat jualan bubur ayam mang oyo relatif sepi. Aku dengan leluasa bisa langsung pesan dan langsung mendapat bubur ayam yg aku inginkan. Sewaktu masih di H. Wasid kalau mau beli bubur ayam di hari minggu seperti antri beras, pake nomer segala lho antrinya. trus loket pemesanan bubur untuk dibawa pulang berbeda dengan etmpat pesan bubur yg akan dimakan di tempat.
Pulang dari beli bubur mas Tras senyam-senyum sambil bawa koran. Ternyata wajah dan namaku nampang dengan sukses di Kompas. Bisa dilihat di sini deh. Gara-gara ikuta milis masak NCC jadi serasa selebritis euy Ceritanya seputar Hbh tempo hari yg aku tulis juga di blog dapurku.
Terus selain itu aku juga titip brokus amanda ke Otik, rupanya gak standar 1 lapis coklat ya..buktinya aku dapat brokus denga 2 lapisan coklat seperti ini :

Alhamdulillah misi pergi ke Bandung sukses terlaksana, akhirnya jam 15.30 Nungki, Nunung, Arief, mama-papa meluncur ke Jakarta sedangkan aku mesti nunggu mas Tras sebentar untuk membereskan urusannya. Setelah mampir ke pasar balubur untuk beli CD blank dan casingnya, tepat jam 18.10 aku meluncur menuju Jakarta.
Whew…. akhir pekan yang heboh.







