Monday, January 30, 2006

Selama di Bandung

Aku sudah ada di Bandung -dalam rangka menikahnya Toni- sejak hari Kamis tgl 26 Januari. Mama, Papa berangkat dari Surabaya naik KA Argo Wilis Jumat tgl 27 pagi dan sampai di bandung 27 malam, berangkat bersama dengan bude Koesno dan mas Didik. perlu 2 mobil untuk menjemput rombongan yg hanya 4 orang itu, maklum barang bawaannya buanyak banget. Selain kado-kado titipan juga ada oleh-oleh dari mama yg tak kalah heboh, ada ayam ungkep ala Mama, ada serabi Solo, cake Mandarijn, bakwan dari Surabaya, tak lupa udang bu Rudy yg sambelnya pedes tidak kepalang itu. Malam itu menginap di rumah cikutra.

Tgl 28 siang ada rombongan dari Jakarta yg datang (Nungki dan Nunung, Nyak dan Abehnya Nunung, bang Kosim sekeluarga plus 1 iparnya Nungki). Malamnya rombongan dari Ponorogo datang dengan menggunakan KA Argo WIlis. Selain bude Tik dan pakde Badri, ibu dan bapak Har plus Fazza, ada juga bude Pir. Nama budeku lucu-lucu ya…hehehe..itu nama panggilan mereka sejak aku kecil.

Sabtu siang Mama dan para tamu masuk ke Wisma Asri yg ada di Jl. Merak no. 5 (persis di belakang Japati). Sebetulnya aku lebih suka tinggal di rumah Cikutra, karena tinggal di rumah sendiri menurutku tetap lebih enak dan nyaman -plus di rumah cikutra ada akses internet tak terbatas yg cepet banget -. Tapi nadya keukeuh mau nginep di Wisma Asri, bahkan melemparkan rayuan mautnya. Rayuannya seperti ini :

Nadya : Ayah capek gak ?

Ayah : Iya nih, pegel-pegel

Nadya : nanti Nadya pijitin tangan ayah yg pegel-pegel di hotel. trus nanti kakinya juga dipijit sama Nadya di hotel.

See, dengan keukeuhnya Nadya bilang dia akan mijitin di hotel / wisma.

Malam itu Gasibu ruame banget, ada acaranya Clear, jai kebayang kan gimana macetnya jalan menuju ke wisma. Aku yg dari arah cikutra aka terpaksa lewat Tekukur demi menghindari keramaian.

Minggu tgl 29 alhamdulillah semua berjalan lancar dan setelah itu adalah…hari jalan-jalan…

Yup, selama ada eyang kung dan eyang ti, Nadya dan Arief tidak pernah nganggur di rumah :)

Minggu malam aja kita udah nyobain makan di BMC.

ki-ka : Nunung, Nungki, Papa, Arief, mas Tras, Fariz

Trus Senin pagi juga aku udah diculik dari Cikutra diajak jalan-jalan. Kali ini ke Ciwalk.

Trus makan malam di Lesehan yg ada di depan Wisma Asri Jl. Merak.

Posted by rina rinso at 23:46:18 | Permalink | Comments (2)

Sunday, January 29, 2006

Pernikahan

Adikku menikah.

3 dari 4 bersaudara (Rina, Nungki, Toni, dan Fariz) sudah menikah. Aku menikah th 99, Nungki tahun 2000, dan tanggal 29 kemarin Toni menikah.

Acaranya berlangsung di Bandung.

Karena aku pernah kuliah dan tinggal di Bandung, maka 3 (aku, Toni, dan Fariz) dari 4 bersaudara pernah merasakan tinggal di Bandung.

Karena kita dari pihak laki-laki, maka tidak banyak persiapan yg aku lakukan. Toni yg repot di bandung.

Kedua sejoli ini baru ketemu bulan ramadhan tahun 2005 lalu di Bandung, kemudian dengan serangkaian proses kilat yg melibatkan pimpinan pondok pesantren Wali Songo di Ngabar Ponorogo, pas tahun baru adikku melamar dan tanggal 29 kemarin menikah.

Acara ijab kabul-nya juga agak sedikit KKN. Rupanya yg menikahkan adalah pimpinan ponpes Wali SOngo (pak Har) dan beliau minta pake bahasa Arab, maka pakde Badri (yg merupakan salah satu pimpinan Gontor dan merupakan paman dari pimpinan pak Har) jadi saksi yg dengan matafff bilang “SAH” ketika adikku selesai mengucapkan ijab kabulnya dalam bhs Arab :)

Kalau waktu aku menikah kaya’nya aku adem ayem aja, kemarin aku bener-bener terharu melihat adikku laki-laki menikah.

menyerahkan mas kawin

Posted by rina rinso at 23:10:04 | Permalink | Comments (1) »

Tuesday, January 24, 2006

Happy Birthday

Hari ini tepat 36 tahun suamiku tercinta.

Selamat ulang tahun say. Semoga diberi usia yg barokah, bisa memberi manfaat baik kepada lingkungan. Kalau disebelin sama orang sih gpp, rasulullah yg sudah seperti itu aja masih ada yg benci, apalagi manusia biasa seperti kita. Semoga cita-citanya tercapai. Semoga tetap bisa menjadi ayah yg baik dan lucu buat Nadya. Menjadi imam-ku dan suami yang baik, sabar dan penuh pengertian dan tambah cinta sama aku :) Plus jangan lupa dijaga sholatnya, ngajinya, doa dan dzikirnya.

Untuk membuatnya terasa sedikit berbeda aku coba bikin sponge cake jeruk yg nyontek dari Femina.

 

 

 

potong kue ulang tahun (maunya)

 

Posted by rina rinso at 23:24:53 | Permalink | Comments (3)

Sunday, January 15, 2006

Selama di Surabaya

Tahun 2006 ini aku akhiri di Bandung dan aku awali di Surabaya. Untuk sementara bye bye dulu ya Jakarta….

31 Desember 2005

Tanggal 31 Desember 2005 aku menuju Bandung, naik si Hitam ditemani Mama dan Nadya. Mas Tras sudah ada di Bandung 2 hari sebelumnya jadi aku terpaksa aku nyetir ke Bandung. Alhamdulillah cuacanya mendukung, gak hujan dan gak panas terik, jadi aku si ibu rumah tangga yg sudah lama banget gak nyetir keluar kota bisa nyetir dengan aman dan tenteram. Aku berangkat dari Jakarta jam 08.20 dan sampai di Bandung jam 11.00. Setelah sampai di Cikutra aku baru merasakan ternyata nyetir Jakarta-Bandung lewat tol Cipularang jauh lebih enak daripada nyetir Bandung-Garut (tepatnya Sukaregang). PS : Dulu jaman kuliah sering bolak-balik ke Sukaregang ambil limbah penyamakan kulit buat tugas akhir.

Sebetulnya acara akhir tahun di Bandung bukan acara sok punya uang sehingga sampai bertahun baru di Bandung, atau saking pentingnya tahun baru sampai harus ke bandung. Bukan. Bukan itu alasan aku ke Bandung. Aku harus ke Bandung karena tanggal 1 Januari 2006 adikku melamar seorang perempuan yg rumahnya di Bandung, jadi mau tak mau aku sekeluarga (termasuk Mama papa di Surabaya) harus ke Bandung.

SIngkat cerita acara lamaran berjalan lancar dan sukses dan aku juga berhasil menyumbang sebuah cake yg dihias dengan fondant atau plastic icing. Dibikin dengan alat ala kadarnya yg aku punya. Sengaja pake fondant supaya praktis, cake bisa dibeli di Bandung dan alat-alat yg aku bawa dari Jakarta juga gak banyak, cuma rollingpin, pewarna dan cookie cutter.

2 Januari 2006

Kemudian tanggal 2 Mama Papa balik ke Surabaya dan aku ngikuttttt….. hehehehe. Perjalanan naik kereta api Argo wilis alhamdulillah relatif lancar. Bahkan saking lancarnya kita tiba di Solo 15 menit sebelum jadwal dan mengakibatkan roti Mandarijn 7 dus gak sampe ke tangan, hahaha.

Ceritanya begini, Mama titip ke tanteku di Solo untuk beli roti Mandarijn dan Serabi Solo trus ntar janjian ketemu di Stasiun Solo Balapan. Biasanya kereta api argowilis sampai di Solo jam 3. Gak tahu ada apa kereta api dari Bandung ke Surabaya itu ngebut banget dan sudah sampai di Solo jam 14.45. Sejak dari Yogya Mama sudah berusaha menghubungi mbak Titin (tanteku) tapi rupanya hp-nya ketinggalan di rumah. Jam 14.50 kereta argowilis sudah meninggalkan stasiun Solo Balapan dan pada saat yg bersamaan mbak Titin baru saja masuk ke lapangan parkir stasiun. Yaaaa… Tapi untungnya baik Mama maupun mbak Titin cerdas, karena begitu tahu ketinggalan kereta roti Mandarijn itu langsung dibawa ke travel dan dikirim ke Surabaya.

Meskipun menu di kereta api tidak enak (lebih sopan daripada tidak layak makan) tapi kita tetep happy-happy aja, apalagi sewaktu rombongan Madiun turun (rombongan Ponorogo yg turun di Madiun adalah pak de Badri dan keluarga serta ustad pak Har dan keluarga) santrinya pak Har sudah membawa 3 bungkus nasi pecel Madiun yg uenak tenan. Alhamdulillah….

Kehidupan di Surabaya boleh dikatakan baru dimulai tanggal 3 Januari 2006. Musim hujan sedang melanda kawasan Jawa bagian Timur itu, sehingga kejadian tanah longsor di Jember menjadi topik berita utama di koran dan televisi di Surabaya.

Musim hujan juga menyebabkan Surabaya diguyur hujan deras setiap hari, baik siang maupun sore, sehingga acara jalan-jalannya sering terhambat. Paling juga ke rumah bu Nunuk dan Mami. Di rumah bu Nunuk ada dik Dian dan dik Etik plus anak-anak mereka Alya dan Ai, plus eyangnya (pak Udin) sementara di rumah Mami ada mami, papi, mbak Ririn dan keluarganya (suami dan 2 orang anak perempuan). Bu Nunuk itu adiknya Mama, pak Udin itu adiknya Papa. Sedangkan Papi itu mas-nya Papa. Begitulah hubungan keluarganya.

Foto Alya, Nadya, Ai.

Kalau pulang ke Surabaya gak jajan makanan bisa dikatakan rugi. Salah satu makanan favoritku adalah Tahu Tek atau bahasa Indonesianya Tahu Gunting. Biasanya penjual tahu tek ini sudah beredar di depan rumah sejak jam 5 sore, tetapi karena sejak aku datang hujan selalu turun maka baru hari ke 3 di Surabaya aku bisa makan tahu tek. Sempat terpikir untuk langsung mesen 2 porsi (aih aih aih..rakus sekali diriku) untunglah aku sadar, gak boleh makan 2 piring karena siapa tahu ntar malamnya papa ngajak makan malam keluar hahaha..

Aku pernah mencoba bikin tahu tek sendiri tapi rasanya malah aneh. Kata Lia untuk petis tahu tek gak perlu petis yg enak, justru pake petis yg murahan aja, gitu tips-nya. Hmmm patut dicoba, soalnya makanan itu asli deh bikin aku ketagihan. Meskipun isinya hanya tahu, kentang dan tauge (karena aku gak suka pake lontong) dan isu tahu mengandung formalin sedang rame dibicarakan, aku tidak gentar dan tidak takut untuk makan 1 porsi tahu tek kesukaanku :)

5 Januari 2006

Pagi itu Papa ngajak Nadya ke bonbin Surabaya. Acara jalan-jalan pagi hari itu memang jadi andalan Papa untuk mengambil hati cucunya :) Aku nemenin Papa dan Nadya. Kita berangkat jam 7 pagi. Trus setelah sampai di bonbin (ternyata harga tiketnya 10 ribu euy) Papa sibuk nyari tukang jualan kacang. Kata Papa kalu ke bonbin gak bawa kacang gak enak (bukan contoh yg baik, karena dimana-mana di setiap ujung bonbin ada tanda dilarang memberi makan ke hewan, tapi ya begitulah papa-ku, suka ngeyel, hehehe). Setelah nyari sana sini akhirnya dapat juga tuh kacang untuk binatang yg ada di bonbin.

Pagi itu rupanya hewan di bonbin baru saja sarapan, terbukti dengan adanya petugas bonbin yg mondar-mandir keluar masuk kandang sambil bawa rumput, sayur-mayur, buah-buahan, dll. Di bonbin kali ini Nadya sudah berani ngasih makan hewan-hewan antara lain unta, rusa, dan kanguru kecil. Kalau gajah Nadya belum berani.

  

Trus setelah dari bonbin Papa mesti ngantor dulu (karena meski sudah tergolong lansia papa masih ngantor sebagai konsultan) dan pas jam makan siang Papa pulang ngajak makan siang. Asyikkkk diajak makan di Wapo. Tapi Wapo (warung pojok) di Airlangga sedang di renovasi jadi kita pergi ke kayoon. Meskipun namanya warung pojok tapi menunya bukan menu warung pojok pada umumnya lho, trus harganya juga bukan harga warung :( Untuk mie goreng 1 porsinya 17.000. Emang sih 1 porsinya bisa untuk dimakan 2 orang tapi tetep aja bukan harga warung.

 

Lunch di Wapo kayoon.

6 Januari 2006

Hujan mengguyur Surabaya tak kenal lelah. Banjir ada dimana-mana, termasuk di jalan baratajaya. Rencana papa ngajak Nadya ke Taman Remaja Surabaya (TRS) sering batal karena kalau hujan emang gak nyaman bepergian dan main-main ke TRS. Malam itu hujan baru reda jam 8 malam dan akhirnya Papa memenuhi janjinya ke Nadya, meski udah malam tetep aja kita berangkat.

Nadya berbeda dengan sepupunya Arief. Kalau Nadya suka dengan hingar bingar suara, Arief ana yg sangat suka dengan keheningan. Nadya sangat menikmati jalan-jalan ke TRS atau ke Timezone, sementara Arief menghindari tempat-tempat yg menurutnya berisik :)

      

Nadya naik merry go round, mobil-mobilan, kapal-kapalan, naik monorail keliling TRS ditemenin eyang ti, naik boom-bom car.

Ada 1 lagi wahana yg dinaiki Nadya tapi gak sempet dipotret, naik karpet terbang Aladin hehehe. Meskipun Nadya suka nunjuk-nunjuk untuk main sesuatu di TRS aku cuma keluar uang untuk naik bom-bom car aja, maklum TRS ini salah satu tempat kerja papa sebelum pensiun dan sekarang masih di sini jadi papa dapat jatah freepas. Lumayan kan….

7 Desember 2006

Sebetulnya mama punya rencana untuk mengajakku ke Madiun, Ponorogo, dan Magetan, dikarenakan lebaran idul fitri kemarin aku gak ikut unjung-unjung ke rumah saudara-saudara mama dan papa di 3 kota itu, tapi karena hujan deras mengguyur jawa timur dan pak sopir yg kita minta tolong ternyata gak bisa (krn bos dari hongkong datang jadi papa gak bisa memakai jasa pak sopir, karena sudah bisa dipastikan bos dari hongkong akan jalan-jalan dan memanfaatkan jasa pak sopir perusahaan) akhirnya rencana itu gugur dan sebagai gantinya sabtu pagi itu tante Umi dan romongan FORHATI pada ngumpul di rumah. Acara hari itu adalah membagi beras kepada pemulung yg ada di sekitar baratajaya.

Dengan menggunakan piyama (karena pulang dari TRS jam 10 dan setelah itu Nadya masih semangat cerita tentang pengalamannya main-main di TRS jadi Nadya baru bobok jam 12, karena bobok-nya malam banget tapi bangunnya tetep jam 6 akibatnya jam 9 pagi dia sudah ngantuk, jadi aku ganti kostumnya dengan kostum untuk tidur) Nadya ikut membantu (atau ngerecokin ya ?) eyang-eyang yang aktif di bidang sosial itu.

  

Bener deh, hari itu Nadya tidur siang lebih awal, jadi aku bisa pergi menemui temen milis NCC yg ada di Surabaya. Lia dan Monica adalah 2 member NCC Surabaya yg menemui aku. Kita janjian ketemu di Delta Plaza tepatnya di toko Gunung Agung. Setelah nunggu Lia dan Monica yg sedang belanja belanji, akhirnya ketemu juga deh dengan Lia. Kalau Monica aku sudah pernah ketemu di markas NCC di Jakarta, sedangkan dengan Lia aku malah cuma pesen kue-nya aja waktu Fariz ulang tahun dan baru ketemu hari itu. Setelah perut kenyang di traktir Lia rujak cingur, kita meluncur ke toko 8 di pucang anom. Wah… aku mborong cetakan coklat lagi nih. Beberapa hari sebelumnya aku sempat ke toko 8 dan beli cetakan coklat yg murah meriah dan jumlahnya buanyak banget. Kalap deh :)

9 Januari 2006

Hari itu aku, mama, dan papa ke Zangrandi setelah maghrib. Meski Surabaya malam itu gerimis tetap tidak melunturkan niat untuk ke es krim Zangrandi. Selain itu siangnya kita semua puasa arafah jadi baru bisa ke Zangrandi malam. Puasssss banget menyendokkan 1 suap es krim ke mulut.

  

nadya dan copacobana es krim pesenannya

  

noodle ice cream chocolate pesenanku, casatta pesenan mama dan papa

 

nadya nemenin eyang kung istirahat sore di rumah.

10 januari 2006

Hari ini bertepatan dengan idul adha. Pagi-pagi banget mama sudah berangkat dari rumah mesnuju mesjid Ummul Mu’minin dekat rumah untuk ngetek tempat sholat, hehehe. Gimana gak pagi kalau mama sudah berangkat sejak jam 5.20 pagi. Sedangkan aku jam segitu baru mulai memandikan Nadya yg ikutan sholat Ied. Dulu waktu aku kecil biasa sholat di Taman Surya Kotamadya atau kadang di taman Bungkul darmo, cuma seja papa jadi pengurus mesjid Ummul Mu’minin mau tidak mau kami mesti memakmurkan mesjid deket rumah itu.

   

nadya dan eyang setelah sholat ied

Setelah sholat ied papa langsung sibuk dengan urusan kurban dan lain-lain sedangkan aku, mama dan Nadya malah jalan-jalan nyari sarapan :)

Awalnya mau beli bubur ayam tapi rupanya lagi libur, akhirnya diputuskan beli soto cak Lan yg ada di tepi rel KA, aku lupa nama jalannya, cuma inget aja soto ini 1 jalan dengan tempat praktek almarhum dr. Kabat. Sotonya murah meriah. Gimana gak murah kalau 1 porsi nasi putih dan soto ayam hanya 4000 rupiah. Gimana gak meriah kalau potongan ayam-nya buanyak banget, saking banyaknya sampai buat aku yg doyan lauk daripada nasi ini ayamnya masih bersisa dan bisa digado. Awalnya mama tahu soto ini gara-gara temen MENWA-nya Nungki semasa kuliah di UPN dulu. Sejak harga 1 mangkok 2500 sampai sekarang soto ayam ini jadi pilihan kalau mau sarapan :)

  

Nadya bantu eyang nge-lap mobil

Malam itu untuk pertama kalinya Nadya nonton bioskop layar lebar. Awalnya sih papa menawarkan diri untuk nonton film, kebetulan ada freepass untuk nonton di Galaxy dan di Studio. Akhirnya kita nonton Kingkong di Studio 21. Kupikir Studio 21 itu di Tunjungan Plaza ternyata ada di Pakuwon. Lha Pakuwon kan di ujung lain dari rumah baratajaya…??? Tapi ya itu, demi menyenangkan cucunya papa rela deh ngebut menuju Pakuwon. Kita tiba di tempat 5 menit sebelum pertunjukan di mulai dan dapat tempat duduk L7 - L10. Artinya kita dapat tempat duduk paling depan….!!! Jadi inget masa lalu, saat masih sering nonton di BIP dan dapat kursi paling depan :)

Film yg berdurasi 3 jam itu awalnya dinikmati Nadya. Paling tidak 10 menit pertama Nadya asik ngikuti cerita dan kadang-kadang berjalan di sepanjang gang. Tapi begitu 1 jam Nadya sudah gelisah dan mulai kepingin pulang, untungnya masih bisa aku tahan. Trus kalau ada adegan sedih Nadya ikut nangis, atau musik latar melankolis Nadya juga sudah mulai mewek…. tapi yg jelas, acara nonton pertama itu sukses. Saking suksesnya sekarang setiap malam Nadya ingin diceritain tentang Kingkong :)

11 januari 2006

Hari ini papa sengaja gak ke kantor pagi, karena kepingin nemenin Nadya berenang di Waterpark Ciputra yang gak jauh dari Pakuwon. Begitu melihat lingkungan Waterpark Nadya langsung jatuh hati dan langsung kepingin main air (karena Nadya belum bisa berenang) tapi apadaya ternyata Waterpark baru buka jam 2 siang padahal kita sampai di situ jam 11. Akhirnya diputuskan untuk pulang aja, soalnya kalau mesti nunggu sampe jam2 siang ya lumayan gempor, apalagi Waterpark masih baru jadi di sekitarnya pohon-pohon masih sedikit, panas banget.

Di depan waterpark ciputra.

 Sebetulnya dari Waterpark mama kepingin ngajak aku makan sate kambing di deket Kenjeran. Tapi karena dari Ciputra ke Kenjeran sangat jauh danjam makan siang sudah dekat, akhjirnya diputuskan untuk makan di dukuh pakis, sebuah warung makan murah yg bersih dan makanannya makanan rumah.

Malam itu papa ngajak ke zangrandi lagi. Assiikkkk…. sayang gak sempat motret ice cream-nya. Kemarin aku pesen ice satay, mama pesen tuti frutti coklat, nadya tropical fruit, dan papa pesen casatta.

12 Januari 2006.

Hari itu mama memenuhi janjinya untuk mengajakku makan sate kambing di Tambak Wedi di daerah Kenjeran. Tempat makannya persis di ujung jalan Kedinding Lor. Kali ini yg pergi cuma kita ber-3, aku, mama, dan nadya. Pesen gule, krengsengan, dan sate kambing (sambil ngetik glek..glek juga nih…). Pesen segitu banyaknya (plus nasi putih, es jeruk dan es fanta) cuma 28.000. Untuk makanan segitu menurutku itu murah banget nget nget.

Setelah kenyang makan perjalanan dilanjutkan melihat jembatan yg konon akan menghubungkan Surabaya dengan Madura.

Potongan Jembatan Suramadu dari arah Surabaya

13 Januari 2006

Hari kepulangan menuju Bandung, kemudian seterusnya baru ke Jakarta. Masih tetep naik Argowilis, karena perjalanan siang ternyata asik, apalagi kita sudah punya rencana makan siang dengan gudeg Solo (gudeg yg dibeli di Solo). Seperti kebiasaan mama, kali ini pesen lagi roti mandarijn (plus serabi solo dan gudeg) ke mbak Titin. Jadi setelah lewat Solo ransum makanan kita seperti ini :

  

Karena kita berangkat hari Jumat jadi kursi di kereta banyak yang kosong dan Nadya bisa tidur siang dengan nyaman dalam posisi seperti ini.

Alhamdulillah jam 19.45 aku menginjakkan kaki di bandung, ketemu dengan suamiku tercinta yg selama hampir 12 hari cuma aku denger suaranya saja, merasakan dinginnya bandung.

Siang ini aku siap-siap menuju ke Jakarta dan memulai hidup normal kembali.

Posted by rina rinso at 03:25:16 | Permalink | Comments (16)