Si kancil yang Jujur
Tadi malam menjelang tidur sambil menikmati dinginnya udara bandung (ya, akhir pekan ini ke bandung lagi) ayah bercerita ke Nadya sebuah dongeng pengantar tidur. Cerita klasik tentang si Kancil.
Alkisah suatu hari si kancil berniat mencuri mentimum di pulau seberang, untuk itu dia haru menyeberangi sungai yg lebar. Tak kurang akal si kancil yang tak bisa berenang mencari batu pijakan yang dapat digunakannya untuk menyebrang sampai ke tanah/pulau seberang. Rupanya hari itu bukan hari yang baik buat kancil karena ternyata salah satu gundukan yang dipikirnya batu ternyata buaya yang memang sudah memperhatikan gerak-gerik si kancil. Tak ayal lagi buaya dengan gembira menggigit si kancil.
Si kancil yang merasa terjebak punya ide cemerlang.
si kancil : hey buaya, kenapa kau tidak mencoba gaya makan cara baru yang dijamin lebih enak
buaya : oh ya ?? coba kasil tahu gimana caranya
si kancil : caranya tolong lepaskan aku, nanti aku akan naik ke atas pohon itu, nah kau tunggu aku di bawah pohon itu. nanti aku akan melompat dari atas pohon menuju ke mulut lebarmu sehingga kau bisa langsung menikmati dagingku tanpa susah payah mengunyah.
buaya mangut-mangut dan setuju, akhirnya dia melepas gigitannya dan bersama-sama si kancil menuju ke tepi ke pohon yg dimaksud kancil.
si kancil langsung naik ke atas pohon dan dia melihat di bawahnya ada buaya yang sudah siap menganga denga mulut lebarnya.
Tanpa ragu-ragu si kancil langsung melompat dan langsung ditangkap sama buaya dan tentu saja si kancil langsung menjadi santapan buaya.
Buaya : bener euy ternyata makan cara itu lebih nikmat…
Moral cerita : sekali-sekali si kancil berusaha menjadi si kancil yang jujur.
